Pages

Tuesday, January 24, 2017

Rumah (2)

Apa yang terlintas kalau mendengar kata rumah?

Apa yang kau pikirkan kalau melintasi sebuah rumah?

Apa yang ada di dalam benakmu ketika kau memijakkan kakimu di rumahmu?

Rumah..

Tempat melepas penat setelah seharian bekerja atau melakukan kegiatan lainnya. Hanya benda mati yang kita singgahi setiap hari. Apa benar benda mati?

Aku belum pernah pindah rumah dari lahir. Tapi pasti, suatu hari nanti entah kapan, aku akan mengganti tempat persinggahanku. Hampir tak ada perasaan spesial ketika masuk ke rumah. Karena rumah hanya benda mati yang bisa dihias-hias.

Beberapa minggu yang lalu, kerabat orangtuaku pindah rumah ke luar kota. Dan aku rasa aku harus menceritakan ini. Beliau sebelumnya tinggal di kawasan yang sama dengan rumahku hanya berbeda kompleks. Alasannya pindah rumah, tidak lain karena suaminya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kami mengunjungi beliau karena kurasa orangtuaku sudah berteman dekat dengannya dan almarhum suaminya. Jadi, sebelum meninggalkan kota, kupikir tidak masalah untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan.

Sesampainya di sana, aku melihat rumah yang ramai, mungkin saudara-saudaranya berkunjung kemari juga. Namun, isi rumah sudah kosong, tinggal tersisa karpet dan air mineral kemasan untuk para tamu yang datang berkunjung.

Beliau bercerita kenapa akhirnya memutuskan untuk pindah rumah saja. Jelas alasannya adalah karena ingin meninggalkan kenangan lama yang hanya membuat hatinya rapuh. Kata beliau setiap kali beliau membuka pintu, perasaan yang muncul hanyalah perasaan menanti suaminya pulang. Setiap sudut memuat kenangan tersendiri yang tidak mungkin dilupakan dalam waktu singkat. Mendengar ceritanya bahkan aku sendiri ingin menangis padahal aku tidak terlalu akrab dengan beliau, hanya sekedar tau kalau mereka berkerabat.

Setiap sudut memuat kenangan.

Aku pun ketika di jalan pulang mulai berfikir sebenarnya rumah bukan hanya masalah bangunan fisik. Mungkin iya, tapi bukan itu saja. Kita tidak menyadari setiap hari kita pulang ke rumah, melepas penat supaya besok bisa beraktivitas lagi, bangun dan kemudian meninggalkannya sampai larut malam. Begitu setiap hari yang kita lakukan. Mungkin yang dilakukan teman orangtuaku juga tidak jauh berbeda. Namun, momen pindahan ini merupakan hal yang cukup sulit dan sedih.

Sedih.
Aku belajar dari cerita pindahan rumah ini. Aku melihat sungguh sulit meninggalkan rumah yang sudah ditinggali bertahun-tahun. Mungkin rasanya seperti putus dengan pacar kali ya? Banyak sekali kenangan yang kita miliki bersama, namun harus berpisah dan seolah memori di otak kita berjalan mundur dan memutar semua kenangan yang pernah ada.

Rumah adalah perasaan.
Lebih tepat mengartikan rumah sebagai home daripada house. Karena ternyata, rumah bukan hanya soal material fisik, kokoh, indah, tetapi perasaan, nyawa, jiwa yang mampu membuat suatu hubungan yang nyata dan tidak mudah dilupakan. Kenangan. Rumah adalah tempat menghabiskan sisa harimu, bahkan sisa hidupmu. Kita pasti ingat tempat favorit kita ketika bosan, atau menghindar dari ibu yang cerewet. Atau di mana suatu hubungan terjalin, tertawa, bahagia, keluarga..

Rumah.
Benda mati yang hidup. Fisik yang membangun jiwa. Dan memupuk banyak perasaan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Kau bisa memilih rumah, tapi tidak bisa memilih kenangan apa yang akan terjadi.
Aku berjanji, jika suatu hari nanti aku lulus sebagai arsitek, aku akan membuat bangunan yang memiliki jiwa, Setiap sudut memiliki kesan yang tak terlupakan. Aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun yang menyinggahinya lantas ingin mencari tempat baru. Atau ketika pindahan tidak merasa apapun. Bangunan yang dirindukan. Place not only space.