Pages

Friday, June 30, 2017

Life of an Architecture Student (term 1)




   Aku adalah mahasiswa Arsitektur yang baru menyelesaikan semester pertama. Ingin rasanya menulis setiap tugas yang diberikan, namun apa daya aku masih kesulitan untuk membagi waktuku dengan banyaknya kegiatan ditambah tugas yang belum biasa aku kerjakan. Aku masih butuh menyesuaikan diri dengan tugas-tugas yang ada dan jam tidur yang bergeser bahkan berkurang.


Kuliah Arsitektur.
Hal yang mungkin tak akan kusesali. Kuliah arsitektur bukan hanya sekadar kuliah eksak menghapal memecahkan suatu rumus atau apalah. Bukan pula sekadar bersaing untuk mendapat nilai terbaik dengan belajar mati-matian atau cara curang.  Justru itulah hal yang aku sukai dari kuliah arsitektur. Kuliah arsitektur adalah bagaimana caramu untuk bertahan di tengah dosen yang subjektif. Semester pertama adalah masa adaptasi, dari SMA ke kuliah, mata kuliah yang baru atau lebih mendalam, adaptasi teman, bahkan organisasi. Pulang tengah malam bukan hal yang aneh lagi karena mahasiswa baru punya acara mabim setelah kegiatan kuliah. Oleh karena itu, aku pun mengerti kenapa harus begadang bahkan tidak tidur. Tugas yang ada baru bisa dikerjakan setelah tengah malam dan itu bukan sekadar tugas mengetik atau menghitung, tetapi membuat sesuatu yang baru dan membutuhkan waktu yang banyak. Bahkan setelah masa bimbingan selesai, aku telah terbiasa membuat tugas setelah hari berganti sehingga malam biasanya dihabiskan dengan tidak produktif atau bersantai-santai. Atau menukar jam tidur dengan jam kerja.

The Power of Deadline.
"Yaampun gue ketiduran"
Kalimat ini adalah kalimat ter-seringdiucapkan oleh mahasiswa arsitektur.
Ketiduran bisa jadi karena ngantuk banget. Tapi bisa jadi juga karena gak ada ide lagi daripada buang waktu mending dipake tidur. Ajaibnya, The Power of Deadline bisa membuat mahakarya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Entah kenapa, tapi walau cuman semenit pasti bisa aja selesai. Sering banget melenceng dari ide awal, tapi mungkin itu yang disebut kreatifitas. Out of the box, out of the line, out of the idea.



Time is Money Sleeping.
Sudah tidak asing lagi kalo di studio menemukan manusia-manusia yang tidur. Karena sebagai mahasiswa arsitektur kita harus pintar mencuri waktu JIKA kita punya masalah dalam mengatur waktu kita. Apalagi kalau termasuk kaum deadliner. Siap-siap saja waktu tidurmu tergeser dari malam jadi siang. Walaupun masih semester pertama, yang bikin kurang tidur sebenarnya kegiatan setelah kuliah. Mungkin kalau pulang normal dan langsung mengerjakan tugas pasti bisa-bisa saja kok punya waktu tidur yang cukup dan berkualitas. Bahkan, ditengah kegiatan masih bisa loh sempet-sempetin tidur.



I'm The Doctor of Myself.
Kuliah arsitektur tentunya mengharuskan kita mengenal cutter, gunting, bahkan gergaji. Dan jangan salah, sekalipun penggunaannya sudah benar, kecelakaan masih saja bisa terjadi. Otomatis, aku jadi belajar banyak tentang medis dan bagaimana pertolongan pertama jika ada yang terluka. Kita juga harus menjadi dokter bagi teman-teman kita sendiri. Untungnya, fakultasku berada tepat di seberang klinik, jadi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bisa ditangani dengan cepat. Tapi, tetap saja kita harus mencegah terlebih dahulu dengan menggunakan perlengkapan yang aman.





Doing Nothing can  Gives You Everything.
Aneh mungkin mendengar "doing nothing" tapi memang itulah yang dilakukan mahasiswa arsitektur. "Doing nothing" bukan berarti 100% tidak melakukan apa-apa, melainkan merasakan dan mengamati. Kepekaan kita dilatih karena kelima indra kita digunakan dengan maksimal.

Kuliah Arsitektur di semester pertama memberi banyak pelajaran. Terlebih pelajaran di luar pembelajaran. Banyak hal yang tidak terpikirkan ketika ingin berkuliah di jurusan arsitektur. Mungkin banyak orang yang berfikir sebelah mata, padahal sebenarnya kuliah arsitektur memberi banyak hal yang bahkan tidak terfikirkan. Alam, manusia, kreativitas, waktu, orisinalitas, eksplorasi, kerjasama, deadline, analisis, tukang kayu, pertolongan pertama dan pertemanan.






















You don't have to make a goals but make sure you're ready to follow the proccess.
Architecture brings the ideas into reality and make the dream comes true.

Tuesday, January 24, 2017

Rumah (2)

Apa yang terlintas kalau mendengar kata rumah?

Apa yang kau pikirkan kalau melintasi sebuah rumah?

Apa yang ada di dalam benakmu ketika kau memijakkan kakimu di rumahmu?

Rumah..

Tempat melepas penat setelah seharian bekerja atau melakukan kegiatan lainnya. Hanya benda mati yang kita singgahi setiap hari. Apa benar benda mati?

Aku belum pernah pindah rumah dari lahir. Tapi pasti, suatu hari nanti entah kapan, aku akan mengganti tempat persinggahanku. Hampir tak ada perasaan spesial ketika masuk ke rumah. Karena rumah hanya benda mati yang bisa dihias-hias.

Beberapa minggu yang lalu, kerabat orangtuaku pindah rumah ke luar kota. Dan aku rasa aku harus menceritakan ini. Beliau sebelumnya tinggal di kawasan yang sama dengan rumahku hanya berbeda kompleks. Alasannya pindah rumah, tidak lain karena suaminya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kami mengunjungi beliau karena kurasa orangtuaku sudah berteman dekat dengannya dan almarhum suaminya. Jadi, sebelum meninggalkan kota, kupikir tidak masalah untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan.

Sesampainya di sana, aku melihat rumah yang ramai, mungkin saudara-saudaranya berkunjung kemari juga. Namun, isi rumah sudah kosong, tinggal tersisa karpet dan air mineral kemasan untuk para tamu yang datang berkunjung.

Beliau bercerita kenapa akhirnya memutuskan untuk pindah rumah saja. Jelas alasannya adalah karena ingin meninggalkan kenangan lama yang hanya membuat hatinya rapuh. Kata beliau setiap kali beliau membuka pintu, perasaan yang muncul hanyalah perasaan menanti suaminya pulang. Setiap sudut memuat kenangan tersendiri yang tidak mungkin dilupakan dalam waktu singkat. Mendengar ceritanya bahkan aku sendiri ingin menangis padahal aku tidak terlalu akrab dengan beliau, hanya sekedar tau kalau mereka berkerabat.

Setiap sudut memuat kenangan.

Aku pun ketika di jalan pulang mulai berfikir sebenarnya rumah bukan hanya masalah bangunan fisik. Mungkin iya, tapi bukan itu saja. Kita tidak menyadari setiap hari kita pulang ke rumah, melepas penat supaya besok bisa beraktivitas lagi, bangun dan kemudian meninggalkannya sampai larut malam. Begitu setiap hari yang kita lakukan. Mungkin yang dilakukan teman orangtuaku juga tidak jauh berbeda. Namun, momen pindahan ini merupakan hal yang cukup sulit dan sedih.

Sedih.
Aku belajar dari cerita pindahan rumah ini. Aku melihat sungguh sulit meninggalkan rumah yang sudah ditinggali bertahun-tahun. Mungkin rasanya seperti putus dengan pacar kali ya? Banyak sekali kenangan yang kita miliki bersama, namun harus berpisah dan seolah memori di otak kita berjalan mundur dan memutar semua kenangan yang pernah ada.

Rumah adalah perasaan.
Lebih tepat mengartikan rumah sebagai home daripada house. Karena ternyata, rumah bukan hanya soal material fisik, kokoh, indah, tetapi perasaan, nyawa, jiwa yang mampu membuat suatu hubungan yang nyata dan tidak mudah dilupakan. Kenangan. Rumah adalah tempat menghabiskan sisa harimu, bahkan sisa hidupmu. Kita pasti ingat tempat favorit kita ketika bosan, atau menghindar dari ibu yang cerewet. Atau di mana suatu hubungan terjalin, tertawa, bahagia, keluarga..

Rumah.
Benda mati yang hidup. Fisik yang membangun jiwa. Dan memupuk banyak perasaan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Kau bisa memilih rumah, tapi tidak bisa memilih kenangan apa yang akan terjadi.
Aku berjanji, jika suatu hari nanti aku lulus sebagai arsitek, aku akan membuat bangunan yang memiliki jiwa, Setiap sudut memiliki kesan yang tak terlupakan. Aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun yang menyinggahinya lantas ingin mencari tempat baru. Atau ketika pindahan tidak merasa apapun. Bangunan yang dirindukan. Place not only space.