Friday, June 30, 2017

Life of an Architecture Student (term 1)




   Aku adalah mahasiswa Arsitektur yang baru menyelesaikan semester pertama. Ingin rasanya menulis setiap tugas yang diberikan, namun apa daya aku masih kesulitan untuk membagi waktuku dengan banyaknya kegiatan ditambah tugas yang belum biasa aku kerjakan. Aku masih butuh menyesuaikan diri dengan tugas-tugas yang ada dan jam tidur yang bergeser bahkan berkurang.


Kuliah Arsitektur.
Hal yang mungkin tak akan kusesali. Kuliah arsitektur bukan hanya sekadar kuliah eksak menghapal memecahkan suatu rumus atau apalah. Bukan pula sekadar bersaing untuk mendapat nilai terbaik dengan belajar mati-matian atau cara curang.  Justru itulah hal yang aku sukai dari kuliah arsitektur. Kuliah arsitektur adalah bagaimana caramu untuk bertahan di tengah dosen yang subjektif. Semester pertama adalah masa adaptasi, dari SMA ke kuliah, mata kuliah yang baru atau lebih mendalam, adaptasi teman, bahkan organisasi. Pulang tengah malam bukan hal yang aneh lagi karena mahasiswa baru punya acara mabim setelah kegiatan kuliah. Oleh karena itu, aku pun mengerti kenapa harus begadang bahkan tidak tidur. Tugas yang ada baru bisa dikerjakan setelah tengah malam dan itu bukan sekadar tugas mengetik atau menghitung, tetapi membuat sesuatu yang baru dan membutuhkan waktu yang banyak. Bahkan setelah masa bimbingan selesai, aku telah terbiasa membuat tugas setelah hari berganti sehingga malam biasanya dihabiskan dengan tidak produktif atau bersantai-santai. Atau menukar jam tidur dengan jam kerja.

The Power of Deadline.
"Yaampun gue ketiduran"
Kalimat ini adalah kalimat ter-seringdiucapkan oleh mahasiswa arsitektur.
Ketiduran bisa jadi karena ngantuk banget. Tapi bisa jadi juga karena gak ada ide lagi daripada buang waktu mending dipake tidur. Ajaibnya, The Power of Deadline bisa membuat mahakarya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Entah kenapa, tapi walau cuman semenit pasti bisa aja selesai. Sering banget melenceng dari ide awal, tapi mungkin itu yang disebut kreatifitas. Out of the box, out of the line, out of the idea.



Time is Money Sleeping.
Sudah tidak asing lagi kalo di studio menemukan manusia-manusia yang tidur. Karena sebagai mahasiswa arsitektur kita harus pintar mencuri waktu JIKA kita punya masalah dalam mengatur waktu kita. Apalagi kalau termasuk kaum deadliner. Siap-siap saja waktu tidurmu tergeser dari malam jadi siang. Walaupun masih semester pertama, yang bikin kurang tidur sebenarnya kegiatan setelah kuliah. Mungkin kalau pulang normal dan langsung mengerjakan tugas pasti bisa-bisa saja kok punya waktu tidur yang cukup dan berkualitas. Bahkan, ditengah kegiatan masih bisa loh sempet-sempetin tidur.



I'm The Doctor of Myself.
Kuliah arsitektur tentunya mengharuskan kita mengenal cutter, gunting, bahkan gergaji. Dan jangan salah, sekalipun penggunaannya sudah benar, kecelakaan masih saja bisa terjadi. Otomatis, aku jadi belajar banyak tentang medis dan bagaimana pertolongan pertama jika ada yang terluka. Kita juga harus menjadi dokter bagi teman-teman kita sendiri. Untungnya, fakultasku berada tepat di seberang klinik, jadi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bisa ditangani dengan cepat. Tapi, tetap saja kita harus mencegah terlebih dahulu dengan menggunakan perlengkapan yang aman.





Doing Nothing can  Gives You Everything.
Aneh mungkin mendengar "doing nothing" tapi memang itulah yang dilakukan mahasiswa arsitektur. "Doing nothing" bukan berarti 100% tidak melakukan apa-apa, melainkan merasakan dan mengamati. Kepekaan kita dilatih karena kelima indra kita digunakan dengan maksimal.

Kuliah Arsitektur di semester pertama memberi banyak pelajaran. Terlebih pelajaran di luar pembelajaran. Banyak hal yang tidak terpikirkan ketika ingin berkuliah di jurusan arsitektur. Mungkin banyak orang yang berfikir sebelah mata, padahal sebenarnya kuliah arsitektur memberi banyak hal yang bahkan tidak terfikirkan. Alam, manusia, kreativitas, waktu, orisinalitas, eksplorasi, kerjasama, deadline, analisis, tukang kayu, pertolongan pertama dan pertemanan.






















You don't have to make a goals but make sure you're ready to follow the proccess.
Architecture brings the ideas into reality and make the dream comes true.

Tuesday, January 24, 2017

Rumah (2)

Apa yang terlintas kalau mendengar kata rumah?

Apa yang kau pikirkan kalau melintasi sebuah rumah?

Apa yang ada di dalam benakmu ketika kau memijakkan kakimu di rumahmu?

Rumah..

Tempat melepas penat setelah seharian bekerja atau melakukan kegiatan lainnya. Hanya benda mati yang kita singgahi setiap hari. Apa benar benda mati?

Aku belum pernah pindah rumah dari lahir. Tapi pasti, suatu hari nanti entah kapan, aku akan mengganti tempat persinggahanku. Hampir tak ada perasaan spesial ketika masuk ke rumah. Karena rumah hanya benda mati yang bisa dihias-hias.

Beberapa minggu yang lalu, kerabat orangtuaku pindah rumah ke luar kota. Dan aku rasa aku harus menceritakan ini. Beliau sebelumnya tinggal di kawasan yang sama dengan rumahku hanya berbeda kompleks. Alasannya pindah rumah, tidak lain karena suaminya telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kami mengunjungi beliau karena kurasa orangtuaku sudah berteman dekat dengannya dan almarhum suaminya. Jadi, sebelum meninggalkan kota, kupikir tidak masalah untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan.

Sesampainya di sana, aku melihat rumah yang ramai, mungkin saudara-saudaranya berkunjung kemari juga. Namun, isi rumah sudah kosong, tinggal tersisa karpet dan air mineral kemasan untuk para tamu yang datang berkunjung.

Beliau bercerita kenapa akhirnya memutuskan untuk pindah rumah saja. Jelas alasannya adalah karena ingin meninggalkan kenangan lama yang hanya membuat hatinya rapuh. Kata beliau setiap kali beliau membuka pintu, perasaan yang muncul hanyalah perasaan menanti suaminya pulang. Setiap sudut memuat kenangan tersendiri yang tidak mungkin dilupakan dalam waktu singkat. Mendengar ceritanya bahkan aku sendiri ingin menangis padahal aku tidak terlalu akrab dengan beliau, hanya sekedar tau kalau mereka berkerabat.

Setiap sudut memuat kenangan.

Aku pun ketika di jalan pulang mulai berfikir sebenarnya rumah bukan hanya masalah bangunan fisik. Mungkin iya, tapi bukan itu saja. Kita tidak menyadari setiap hari kita pulang ke rumah, melepas penat supaya besok bisa beraktivitas lagi, bangun dan kemudian meninggalkannya sampai larut malam. Begitu setiap hari yang kita lakukan. Mungkin yang dilakukan teman orangtuaku juga tidak jauh berbeda. Namun, momen pindahan ini merupakan hal yang cukup sulit dan sedih.

Sedih.
Aku belajar dari cerita pindahan rumah ini. Aku melihat sungguh sulit meninggalkan rumah yang sudah ditinggali bertahun-tahun. Mungkin rasanya seperti putus dengan pacar kali ya? Banyak sekali kenangan yang kita miliki bersama, namun harus berpisah dan seolah memori di otak kita berjalan mundur dan memutar semua kenangan yang pernah ada.

Rumah adalah perasaan.
Lebih tepat mengartikan rumah sebagai home daripada house. Karena ternyata, rumah bukan hanya soal material fisik, kokoh, indah, tetapi perasaan, nyawa, jiwa yang mampu membuat suatu hubungan yang nyata dan tidak mudah dilupakan. Kenangan. Rumah adalah tempat menghabiskan sisa harimu, bahkan sisa hidupmu. Kita pasti ingat tempat favorit kita ketika bosan, atau menghindar dari ibu yang cerewet. Atau di mana suatu hubungan terjalin, tertawa, bahagia, keluarga..

Rumah.
Benda mati yang hidup. Fisik yang membangun jiwa. Dan memupuk banyak perasaan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Kau bisa memilih rumah, tapi tidak bisa memilih kenangan apa yang akan terjadi.
Aku berjanji, jika suatu hari nanti aku lulus sebagai arsitek, aku akan membuat bangunan yang memiliki jiwa, Setiap sudut memiliki kesan yang tak terlupakan. Aku berjanji tidak akan membiarkan siapapun yang menyinggahinya lantas ingin mencari tempat baru. Atau ketika pindahan tidak merasa apapun. Bangunan yang dirindukan. Place not only space.

Thursday, July 14, 2016

Fall Down 8 Times, Stand Up 9, 10, 11!

Manusia selalu punya rencana, tetapi kehendak Tuhan lah yang jadi.

Delapan kali gagal.
Tahun 2015 gw lulus SMA. Seperti pada postingan sebelumnya, kita selalu punya rencana untuk masa depan kita tetapi belum tentu Yang Di Atas merestuinya. Setelah lulus SMA, gw pun mengikuti ujian-ujian masuk perguruan tinggi seperti anak-anak lainnya. Sayangnya, gak ada pintu yang terbuka buat gw dari setiap ujian yang gw coba. Bahkan, rasanya tidak adil melihat teman-teman yang perasaan males-malesan dulu, tukang nyontek, tukang ga ngerjain pr, eh malah dapet. Sedangkan yang udah rajin dan taat banget sama sekolah tapi malah gak dapet.

Capek banget sih. Apalagi kalo inget ada beberapa ujian yang udah sampe di tahap terakhir tapi malah gagal. Entahlah udah berapa ember air mata gw yang keluar waktu itu. Yang ada di otak gw saat itu adalah satu kata tanya: KENAPA. Kenapa yang bercabang-cabang menjadi kenapa saya gak dapet, kenapa dia yang dapet, kenapa susah banget, kenapa gak dikasih satu aja, kenapa kenapa kenapa.
Entahlah apa yang salah sama gw taun itu, Bahkan usaha gw di sekolah mempertahankan nilai biar terus naik rasanya sia-sia.

Penasihat-penasihat kesiangan tiba-tiba bermunculan gak tau dari mana. Ngasih nasihat ini, itu, malah lebih ke nyalahin gw udah ngambil keputusan yang gak bener. Bukannya malah dapet pencerahan, yang ada malah buyar harapan gw buat kuliah taun itu. Bahkan, masa depan gw yang awalnya ada, terencana, sekarang bingung mau gw bawa kemana lagi. Alhasil, terbentuklah gap year setahun.

Dalam setahun itu, gw gak melakukan banyak hal. Semester pertama justru diisi oleh kegiatan-kegiatan tidak produktif. Bisa dihitung jari lah kegiatan produktif yang gw lakukan. Alasannya ya salah satunya karena temen-temen gw semuanya udah pada kuliah dan sibuk masing-masing. Rasa kecewa pada diri gw sendiri begitu kuat sampai bisa mengalahkan keinginan untuk les dan belajar lagi dari awal. Bahkan, rasanya gw udah nyaman banget punya kehidupan seperti ini, bangun pagi hanya untuk menunggu waktu tidur saat malam datang. Tapi bulan Desember gw sadar gw gak bisa kayak gini terus. Gw memberanikan diri, melawan rasa malu, gengsi, dan malas demi masa depan gw. Gw pun daftar les lagi dan mulai di semester kedua.

Di awal les, gw kagok banget karena literally gw udah gak belajar selama berbulan-bulan dan pastinya gw ketinggalan banget dibandingkan temen-temen gw yang udah mulai dari bulan september. It means, gw harus minjem catetan temen gw dan belajar lebih keras daripada mereka. TO pertama bikin kaget karena seumur hidup gakpernah gw dapet nilai segitu, apalagi dengan kondisi gw yang super ketinggalan materi. Tapi nilai TO yang tinggi malah memacu gw biar gak turun di TO selanjutnya. Gw belajar, diskusi sama temen-temen di luar jam pelajaran, ngerjain soal bareng-bareng, dan semuanya terasa santai tapi pasti. Saat itu gw belum punya tujuan yang pasti mau kemana. Apakah gw akan mempertahankan mimpi gw jadi arsitek atau yang penting dapet ptn tahun ini.

Gw senang sekali punya temen-temen les yang sangat membangun gw. Mereka baru gw temuin disini, di kelas alumni. Setiap TO diperhatikan masing-masing, kalo turun kalo naik. Gak ada yang egois bisa sendiri, tapi saling berbagi ilmu, kalo bisa ya ngajarin kalo gak bisa ya nanya sama yang bisa. Solid, semuanya kenal. Mungkin karena kita sama-sama punya nasib yang sama dan gak ingin kejadian tahun kemarin terulang lagi.

Singkat cerita, akhirnya pas sbm gw memilih arsitektur UI lagi di pilihan 1. Entah keberanian darimana milih jurusan itu yang cuman nampung 20 orang. Padahal rata-rata TO gw 47, sedangkan dari tempat les gw, passing gradenya 55. Tapi karena gw tau cuman ada 20 kursi dan nilai gw gak cukup juga, gw pun milih jurusan kedua dan ketiga yang lebih banyak kursinya dan peminatnya gak banyak-banyak banget. Psikologi Unpad dan Agribisnis UNS di pilihan selanjutnya. Ya kata temen-temen gw sih gak ada nyambung-nyambungnya jurusan gw. Tapi gw nyari aman dan berharap kecantol di mana aja deh.

Pas hari H sbm, rasanya gak ada yang spesial. Bahkan gw tidur sangat nyenyak dan hampir kesiangan. Gw sampe di tempat juga 10 menit sebelum bel haha. Rasanya beda banget sama tahun kemaren yang degdegan parah sampe gabisa tidur, kebangun terus tiap menit. Di sana gw juga biasa aja ngerjainnya ga ngerasa kalo itu sbm. Kayak TO biasa aja yang santai. Pulangnya gw naik bus bareng temen gw. Seru sih naik bus....

Nunggu sebulan buat pengumuman. Eh tapi gw juga ikut UM Undip dan SIMAK UI seminggu setelah sbm. Sebenernya abis sbm ada kelas lagi buat UM lainnya, tapi gw mager banget parah. Jadi gw dateng sekali ngambil buku abis itu gak dateng-dateng lagi. Dan gaktau ya, kadang gw ngerasa pd banget sama hasil sbm gw pasti lolos tapi kadang mikir juga gw ngerjainnya dikit dan banyak yang gw bikin-bikin jawabannya. Selama sebulan itu yang bisa gw lakukan cuman berdoa dan berharap supaya ada keajaiban pada hasilnya nanti.

Berhasil pada percobaan ke-9, 10, dan 11
Puji Tuhan.
Tanggal 28 Juni 2016, ada kabar bahagia. Hasil pengumuman sbm positif dan gw keterima di pilihan pertama. Rasanya seneeeenggg banget dan gak bisa diungkapin pake kata-kata. Tahun ini nangis lagi, tapi tangisan bahagia. Bahagia banget. Emang kayaknya lebay dan norak tapi gw gak peduli. Seneng banget apalagi setelah lo udah ngerasain penolakan berkali-kali dan kali ini lo diterima, rasanya tuh kayak ada keajaiban dalam hidup lo. Puji Tuhan gw jg keterima di Undip dan STAN. Bersyukur banget buat berkat Tuhan tahun ini.

Puji Tuhan dibukain jalan tahun ini. Sekarang pun gw masih bertanya-tanya satu kata tanya: KENAPA. Tapi beda dengan tahun kemaren. Kalo sekarang kenapa gw diberi jalan semudah ini tahun ini, semua yang gw coba dapet, sedangkan tahun kemaren gw mati-matian tes sana-sini tapi gak ada yang dapet. Entahlah. Gw juga gak ngerti maksud Tuhan dalam hidup gw, yang jelas ada rencana yang jauh lebih luar biasa daripada rencana gw. Mungkin tahun kemarin Tuhan gak ingin gw asal kuliah di tempat yang gw gak suka dan gak bisa. Mungkin tahun kemarin gw belum siap buat nerima tanggung jawab ini. Mungkin emang kayak gini jalannya biar gw belajar banyak buat jadi pribadi yang lebih baik lagi.

Trimakasih buat semua orang yang udah dukung gw, yang gak ngeremehin gw dan selalu support walaupun kelihatannya gw gak mampu. Trimakasih buat nyokap gw bokap gw yang gak pernah marah sedikitpun masalah gw gak dapet kuliah, yang gak pernah maksa gw buat harus kuliah di tempat tertentu, yang selalu support gw, provide kebutuhan gw dan semangatin gw kalo gw lagi males. Trimakasih buat temen-temen yang selalu peduli sama nilai gw, yang bersama-sama saling mengajarkan dan mendoakan satu sama lain. Mungkin kalo gw berdoa sendiri, gak akan gw tembus pilihan 1. Trimakasih buat orang-orang yang gak secara langsung support gw, tapi selalu bikin mood gw baik. It really means a lot buat gw semangat belajar. Dan terimakasih juga ya buat yang udah ngeremehin, yang jadi penasehat kesiangan, karena akhirnya gw bisa nunjukkin kalo Tuhan gw lebih besar dan ajaib dalam hidup gw.

Setahun ini gw belajar banyak. Jangan egois, jangan takabur, tetap rendah hati dan jujur. Itu kunci gw bisa meraih apa yang gw impikan selama ini. Tapi yang lebih penting adalah, percaya kepada Tuhan, berserah serahkan segala kekhawatiranmu, beban hidupmu dan permintaanmu kepadaNya. Ketika kamu sudah mau bekerja keras dan meminta dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, PASTI Tuhan akan jawab. Entah kapan waktunya, yang jelas pada waktu yang benar-benar tepat.

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." Pengkhotbah 3:11

"Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang" Amsal 23:18

God Bless Us

Sunday, June 26, 2016

Rumah

inspired by Bhimo Sawo

Aku mau jadi rumah yang selalu kamu butuhkan
jadi tempat berlindung
di kala hujan membuatmu menggigil
dan matahari membuat kulitmu kering

Aku mau jadi rumah yang selalu kamu impikan
Tak peduli jutaan penghalang
Kamu akan tetap berusaha memilikiku

Aku gak mau jadi rumah yang sudah kamu miliki
tapi hanya bisa melihat kamu kesana kemari
datang lalu pergi lagi
berlalu lalang mencari yang tak pasti
padahal aku sudah kau miliki

Tapi aku tetap jadi rumah yang diam
diam menunggu kamu datang lagi
dan berharap kamu singgahi

8 kilos in a week!?

Halo teman-teman!

Kali ini aku mau sharing tentang pola makan yang udah pernah aku jalanin semasa SMA dulu. Jadi, waktu itu aku berhasil menurunkan berat badanku sebanyak 8 kilo dalam seminggu tanpa olahraga sama sekali dan tetap makan malam.

Kok bisa?

Jadi waktu itu lagi jaman-jamannya diet mayo, nah sebenernya aku terobseesi dari situ. Jadi, makanan-makanan yang aku makan hanya rebusan. Telur, tempe dan lauk pauk juga direbus loh guys. Dan setiap hari harus makan sayur rebus juga. Porsi nasi aku tetap sama seperti biasa, pola makan pagi siang malam juga sama, yang membedakan adalah cara memasak makanannya. Kalau udah mulai bosan sama rasanya yang hambar, sesekali bisa dibikin pakai bumbu pecel. Pokoknya sekreatif kita aja deh.

Selama seminggu itu aku gak olahraga sama sekali, jadi cuman mengganti cara memasak makanan. Minyak, mentega dan margarin tidak digunakan sama sekali waktu itu. Gula juga tetap dipakai tetapi dikurangi sedikit.

Nah, kenapa cuman seminggu?
Karena aku sudah bosan makan rebusan, pengennya makan junk food aja hehe.

Tapi seminggu itu bener-bener lumayan bikin badanku kerasa ringan banget. Setelah itu juga berat badanku tetep stay disitu. Ya kalo naik sekilo 2 kilo lah tapi abis itu turun lagi hehe.

Semoga bermanfaat buat temen-temen yang super sibuk gak punya waktu buat olahraga tapi ingin badannya tetep sehat dan berat badannya terkontrol. Ya emang ini gak bikin perut kamu jadi rata. Tapi super membantu kok buat yang agak gimanaa gitu sama berat badannya.

Good luckk!!

Daily Product(s)

Hallo!

Aku mau sharing nih tentang produk-produk wajah yang selalu aku gunakan setiap hari. Kebetulan aku punya wajah yang normal dan ga berjerawat (kadang-kadang doang on my period). Kulit aku juga setengah kering dan setengah oily, jadi gak kering-kering banget dan hanya berminyak pada area T saja. Jadi, buat yang wajahnya normal, aku bisa rekomendasiin produk-produk ini.

Buat sehari-hari, aku menggunakan produk-produk dari Garnier karena buat aku, Garnier ini ringan apalagi buat dipake sehari-hari sama remaja.

Pagi hari, aku selalu pake Garnier Sakura White Serum Cream SPF21/PA++ untuk pergi kemana-mana atau hanya sekedar di rumah. Efeknya setelah pengaplikasian di wajah aku yaitu kulitku jadi pink merona dan lebih glowing. Cream ini udah dilengkapin sama SPF21 juga gurls. Kalo mau pergi kemana-mana atau mau make up yang lumayan berat, aku juga tetap memakai serum ini sebagai basenya, kemudian baru memakai foundation dan lainnya.

Kalo aku mau hang out sama temen-temen, atau pergi yang santai-santai aja, aku pake BB Cream dari Garnier juga. Pengaplikasiannya mudah banget, seperti menggunakan foundation biasa dan rasanya juga lebih ringan dibanding foundation. BB cream ini juga dilengkapi SPF21 yang bisa melindungi kulitmu dari paparan UVA dan UVB. Efek pada kulit aku tentunya lebih glowing, Awal pemakaian memang warnanya kelihatan putih banget, tapi lama-kelamaan warnanya jadi nyatu sama warna kulit aku dan menambah efek glowing seharian.

Kalo udah mau tidur, aku pake Garnier Sakura White Pinkish Radiance Sleeping Essence. Bisa diaplikasikan sebelum tidur. Cream ini gak berwarna jadi hanya membuat kulit aku terasa lebih oily dan lembab. Efeknya pas bangun tidur, muka aku jadi terlihat glowing dan segar.

Itulah produk-produk yang setiap hari aku pakai untuk beraktiivitas. Untuk facial wash nya, juga aku gunakan tapi gak setiap hari (soalnya aku males hehe). Efeknya di kulit aku jadi bikin kulit aku terasa lebih kenceng aja.

Semua produk-produk ini mudah banget ditemuin di supermarket. Sejauh ini aku udah pake produk ini kira-kira 2 sampai 3 tahun karena aku udah ngerasa cocok dan sejauh ini gak ada tanda-tanda alergi dan sejenisnya. Aku sebenernya agak males gont-ganti produk untuk sehari-hari, soalnya kalo tiba-tiba jerawatan gak cocok, susah banget ngebenerinnya kan. Jadi, kalo udah cocok mending gak usah ganti-ganti lagi dehh.

Segitu dulu kali ya review dari aku tentang daily products yang aku gunain di wajah. Next time kita bahas apa lagi ya, gurls

Thursday, April 14, 2016

Thank God

Manusia selalu punya rencana, tetapi pasti ada saja satu-dua hal yang membuat rencana itu gagal.

Mungkin terlihat sempurna segala sesuatu yang kita rencanakan, umur 18 lulus SMA, kuliah di univ A lulus umur 22, kerja di kantor X, menikah umur 24, punya anak umur 25, menjadi sukses dan bisa bersenang-senang bersama keluarga. Tapi, apa yang terjadi jika salah satu dari rencana itu tidak terwujud? Gagal membangun masa depan. Buyar. Gak tau mau jadi apa lagi. Segala jalan mungkin sudah ditempuh, mendengarkan si A, si B, si C. Melakukan X, Y, Z supaya rencana yang sudah diatur sebaik-baiknya dengan matang tidak rusak sekejap saja.

Sedih.
Kenapa saya gak masuk sini sih? Kenapa dia malah yang masuk padahal lebih pantas saya daripada dia. Kenapa saya ga diterima di mana-mana? Berapa kali lagi saya harus mencoba? Sedih mengecewakan orang tua. Sedih juga mengecewakan diri sendiri.

Marah.
Harusnya saya sudah begini sekarang. Harusnya saya tidak begini sekarang. Padahal saya sudah melakukan yang terbaik, menghabiskan uang, tenaga dan pikiran saya. Marah sama siapa? Marah-marah sendiri.

Malu.
Maunya hilang saja ditelan bumi. Ada reunian, ketemu temen-temen malu. Ada acara keluarga, malu. Selalu ditanya "gimana sekarang?" dan selalu dijawab "gak tau". Pasti selalu ada yang bilang "Harusnya dulu jangan kesini" "Harusnya dulu kesitu aja" Harusnya dulu... harusnya dulu... harusnya dulu...

Bingung.
Harus apa, harus kemana. Sekejap dunia jadi gelap dan burem. Semua rencana yang udah dibikin tiba-tiba buyar dan gak jelas. Harus menata ulang segalanya dan bikin plan lain. Gimana kalo ini gimana kalo itu... tiba-tiba jadi khawatir akan masa depan yang bener-bener ketutup seketika.

Tapi Tuhan gak tutup mata. My life is written by God. I dunno when God gave me family and friends, And also when HE close the door for me. I dunno the reason behind this story. But i really thank God for the good, the bad, and everything following this year. I have learned many things behind this scenario, to appreciate the time, to be more serious, and to trust HIS way.

I just wish the best will come to me this year. More luck and blessing from God. I DO want to follow His way. So, please let me know...

Buat yang mungkin belum pernah merasakan kegagalan, plis jangan egois. Egois tidak memperbaiki keadaan really. Jangan juga takabur. Milikilah rasa belum puas dan cari kekuranganmu dimana, di situlah bisa kamu perbaiki yang belum fix.

Kalo ada yang bilang "Ah lo ga dapet aja sok sokan ngasih tau jangan ini jangan itu"
Yes emang gw gak dapet. Tapi I told u bukan karena gw benar, melainkan karena gw PERNAH GAGAL dan I don't want u to fail like me.
-joli-